Standard Vol. VIII No. 8 (Desember 2012) - Lentera
George Friedrich Handel lahir di kota Halle, Jerman,
pada tanggal 23 Februari 1685. Ia dibesarkan di dalam lingkungan gereja Lutheran. Lahir pada tahun
yang sama dengan komponis besar Johann Sebastian Bach yang juga lahir di
Jerman. Namun keduanya tidak pernah bertemu muka. Bach mengubah music instrument
untuk gereja Lutheran sementara Handel membuat opera dan oratorio untuk teater
sekuler. Keduanya adalah composer terbesar pada era Baroque (1600-1750). Handel
memiliki bakat music yang ajaib. Tetapi ayahnya, seorang dokter yang
menginginkan anaknya belajar hukum itu tidak mengizinkan Handel masuk sekolah music.
Karena itu, Handel kecil secara diam-diam naik ke kamar di bawah atap pada
malam hari untuk berlatih music dengan sebuah organ kecil. Suatu hari di tahun
1693, seorang bangsawan Jerman sangat kagum dengan permainan organ Handel,
ketika ia mengiringi ibadah di gereja. Bangsawan itu memberi saran kepada ayah
Handel agar memberikan pelatihan music secara formal untuk Handel yang kala itu
baru berumur 8 tahun.
Di
usia 12 tahun, Handel sudah mengarang lagu dan memainkan organ dengan begitu
mahir dan lincah. Pada suatu hari setelah menghadiri ibadah di luar kota,
Handel bertanya kepada organis apakah ia boleh memainkan organ milik mereka.
Sementara para jemaat mulai meninggalkan gereja, Handel memainkan organ dengan
begitu luar biasa sehingga jemaat yang sudah bergerak untuk keluar dari gedung
kembali ke tempat duduk mereka dan tidak mau beranjak pergi. Organis di gereja
itu menghentikannya, dan memintanya untuk tidak memainkan organ jika seluruh
jemaat belum pulang.
Melihat
kesungguhan Handel, sang ayah akhirnya mengijinkan anaknya itu belajar dengan
seorang organis local dan selanjutnya membiarkan handel meneruskan pendidikan
formal di bidang music, padahal ia sudah sempat belajar hukum selama setahun.
Handel mulai menulis opera pada usia muda dan usia dua puluhan, ia menjadi composer
yang dibayar dengan harga yang terbaik di bumi ini dan orang-orang mesti
berjuang untuk mendapatkan kursi setiap kali ia tampil. Tahun 1703 ia pindah ke
Hamburd yang merupakan pusat opera Jerman.
Pada
periode 1706-1710, Handel menetap di Italia, tempat di mana opera dilahirkan,
dan bekerja sebagai anggota pemain biola di istana. Handel tidak beruntung,
kala itu Paus mengeluarkan larangan untuk pementasan opera, dan ia berjuang
untuk mempertahankan hidup di sana. AKhirnya larangan itu dicabut dan handel
memiliki opera yang sukses berjudul Agrippina. Tahun 1710 ia kembali ke Jerman
menjadi composer istana bagi pemilihan raja Inggris Raay dan Irlandia. Pada
tahun 1712, ia pindah dari Hanover ke Inggris hinggal meninggal di sana. Di
Inggris, ia mengubah namanya menjada George Friedrich Handel. Pada tahun 1717
ia mengalami naturalisasi untuk menjadi warga negara Inggris.
Di
Inggris kondisinya lebih baik daripada di Italia karena Inggris memiliki
seorang raja yang berasal dari Hanover, Jerman, yaitu Raja George I. Bahkan
Handel pernah kembali ke Jerman dan menjadi dirigen untuk George sebelum ia
menjadi Raja Inggris Raya. Handel sangat sukses di London, banyak opera dan
oratorio sekuler yang ia gubah. Pada tahun 1720-1742, pekerjaan utamanya adalah
menjadi composer dan produser opera London. Namun seringkali karya Handel
menjadi kontroversi. Salah satu karya drama kisah alkitabnya yang controversial
ialah Ether and Israel in Egypt yang ditampilan di teater-teater sekuler yang
dikecam oleh gereja Inggris. Bahkan, tokoh religius sekaliber John Newton
(pengarang himne “Amazing Grace”) pun menentang pertunjukannya yang dianggap “sekuler”
itu. Namun demikian, Handel tidak menanggapi dengan menyerang balik
saudara-saudara Anglikannya itu.
Lahirnya
Oratorio Messiah
Ada
satu masa di mana Handel mengalami masa yang sulit, hasil penjualan tiket
pertunjukannya tidak menggembirakan karena kalah bersaing dengan pertunjukkan
lainnya, tidak adanya sponsor yang tetap dari pihak kerajaan, adanya persaingan
dengan komponis Inggris yang ternama, dan penonton yang tidak selalu mendukung
dan sulit dipuaskan Handel bahkan sempat mengalami kerugian hingga
berkali-kali. Namun, ia terus berupaya tanpa lelah untuk memulihkan kondisinya.
Hal ini juga yang membuat kesehatannya menurun.
Pada
bulan April 1737, ketika berusia 52 tahun, Handel menderita penyakit stroke
yang membuatnya mengalami kelumpuhan, sehingga mustahil baginya untuk melakukan
pertunjukan atau menjadi konduktor karena tangan kanannya telah mengalami
kelumpuhan dan ia sendiri terbiasa menggunakan tangan kanan. Dia juga mengeluh
karena penglihatannya menjadi kabur. Handel mengalami kondisi yang amat sulit.
Dan karena bukanlah seorang pengusaha yang bijaksana, ia kehilangan
keberuntungan dalam bisnis opera, dan di tahun 1740 ia mengalami tekanan dan
terbelit hutang. Menjelang tahun 1741, usaha Handel belum membuahkan hasil.
Frederick Agung menulis bahwa “masa kejayaan Handel telah lewat, inspirasinya
telah habis.”
Karier
music Handel tampaknya memang sudah akan berakhir. Karena itu, pada tanggal 8
April 1741, ia mengadakan pertunjukan yang disebutnya sebagai konser
perpisahan. Bahkan, ia merasa terpaksa harus pensiun pada usia yang masih
produktif, 56 tahun. Akan tetapi, dua peristiwa yang tidak disangka terjadi dan
itu mengubah jalan hidupnya. Suatu hari, Charles Jensen, teman dan sekaligus
penyokong Handel, mengiriminya sebuah libretto yang dibuat dari kumpulan
ayat-ayat Alkitab tentang kehidupan Kristus. Libreto adalah teks yang digunakan
dalam karya music seperti skrip peran dan composer untuk opera. Seluruh
libretto Charles Jensen diambil dari bagian Alkitab, terutama dari PL. Libretto
itu dibagi menjadi tiga bagian : 1)Nubuat tentang kedatangan Mesias datang
(terutama dari kitab Yesaya), 2)kelahiran, kehidupan , pelayanan, kematian,
kebangkitan Kristus, 3) penutupan masa dengan kemenangan akhir Kristus atas
dosa dan kematian, sebagian besar berdasarkan kitab Wahyu.
Kata-kata
“Hiburkanlah, hiburkanlah umatKu” dari Yesaya 40 menginspirasi Handel. Ia
setuju untuk menuiskanmusik bagi libretto tersebut. Ia berpikir akan mengambil
waktu selama satu tahun guna menyelesaikan karya tersebut. Dan di waktu yang
hampir bersamaan ia juga diminta oleh sebuah organisasi penggalan dana dari
Dublin untuk mengadakan pertunjukan amal. Ia menerima komisi yang penuh
kemurahan hati dan itu membuat dirinya menjadi sangat sibuk. Konon saat akan
menulis Messiah, Handel berpuasa selama tiga bulan. Ia terus berada di dalam
kamarnya. Para pembantunya tidak pernah melihat dirinya keluar dari kamar.
Mereka meletakkan makanan di depan pintu kamarnya. Seringkali keesokan harinya
makanan tersebut masih ada di depan pintu dan menjadi basi. Handel benar-benar
seirus dan benar-benar meminta hikmat dari Allah.
Pada
tanggal 22 Agustus 1741, Handel mulai menulis music untuk teks yang dikirim
oleh Jensen. Demikianlah oratorio agung yang diberi judul Messiah (bukan The
Messiah) itu selesai digarap dalam waktu singkat selama musim panas tahun 1741.
Di mana bagian pertamanya selesai dalam tempo 6 hari saja. Sembilan hari
kemudian bagian kedua terselesaikan, dan 6 hari berikutnya bagian ketiga
tuntas. Selain itu, sekumpulan lagu-lagu orchestra berhasil diselesaikan 2 hari
berikutnya. Dengan demikian, semua karyanya yang berjumlah 260 halaman itu
dituntaskan hanya dalam waktu 24 hari. Sebuah perjuangan yang luar biasa.
Menurut keterangan asistennya, ketika sampai pada lagu Hallelujah, Handel
menangis dan berkata, “Saya pikir saya telah melihat surge terbuka, dan melihat
wajah Tuhan.”
Pementasssan
Oratorio Messiah
Oratorio
itu pertama kali dipentaskan selama perayaan Paskah pada tanggal 13 April 1742.
Hal yang menarik adalah bahwa John Wesley, tokoh pendiri gereja Methodist yang
terkenal itu adalah salah seorang yang menyaksikan pementasan tersebut. Dalam
jurnalnya ia memberikan komentar, “Ada beberapa bagian yang sangat menggugah,
tapi saya ragu hal itu memiliki daya tahan.” Adalah bagus karena John tidak masuk
ke bisnis music. Sedangkan saudaranya, Charles cukup mengenal Handel, ia bahkan
mengunjungi Handel beberapa kali di rumahna. Charles sendiri menggubah dua
himne Natal yang terkenal, Lo he Comes
with Clouds Desecending dan yang lebih terkenal adalah Hark the Herald Angels
Sing. Tidak seperti Handel, ia adalah seorang penulis lirik lagu bukan composer
music yang adalah keahlian khusus Handel.
Seusai
pertunjukan itu, Lord Kinnoul memberi ucapan selamat pada Handel atas “hiburan”
yang luar biasa tersebut. Handel menjawab, “Tuan, maafkan saya karena saya
hanya menghibur mereka, saya berharap saya bisa membuat mereka menjadi lebih
baik.” Sir Newman Flower, salah satu dari penulis biografi Handel, pernah
menulis, “Lagu Handel ini akan bertahan, mungkin untuk selamanya. Benar-benar
suatu pencapaian terbesar di sepanjang sejarah karangan music.” Dari
pertunjukan perdana itu, panitia berhasil mengumpulkan dana sebesar 400
pound dan membebaskan 142 orang yang
dipenjarakan karena terbelit hutang.
Raja Berdiri
Pada
tanggal 23 Maret 1743, Handel mementaskan oratorio itu London. Kontroersi
muncul dari gereja Inggris yang terus menerus menghantam Handel. Beruntung bagi
Handel, Raja George II memutuskan bahwa ini adalah layak untuk ditonton dan
didukung, dan ini pada gilirannya menyebabkan salah satu tradisi paling menarik
yang terhubung dengan karya ini. Ketika Hallelujah Chorus mulai dimainkan, raja
yang menghadiri pertunjukan itu tiba-tiba bangkit berdiri. Sudah menjadi protocol
yang normal bahwa jika raja berdiri di setiap saat, tidak ada yang berada di
hadapannya mengambil posisi duduk. Demikianlah semua orang pada saat itu
bangkit berdiri.
Mengapa
sang raja berdiri tidak diketahui dengan pasti ada beberapa keterangan
sehubungan dengan itu. Pertama, ada kemungkinan bahwa ia bermaksud meregangkan
kakinya. Kedua, kemungkinan yang lain adalah bahwa raja yang telah mengalami
setengah tuli itu mengira bahwa Hallelujah Chorus adalah bagian pembukaan dari lagu kebangsaan
Inggris Ketiga, sebagian orang mengatakan bahwa itu adalah cara bagi raja untuk
menunjukkan bahwa ia mengakui Kristus adalah Raja segala raja. Apapun
alasannya, tradisi ini telah dipertahankan sampai sekarang. Di seluruh dunia,
orang-orang berdiri setiap kali mereka mendengar nada awal dari Hallelujah
Chorus.
Segera
sesudah peristiwa ini, nama dan karier Handel kembali meroket. Ia memimpin
lebih dari tiga puluh pertunjukkan “Messiah”. Konser-konsernya sangat
menguntungkan bagi rumah sakit yang memelihara anak-anak terlantar Karena
banyak dermawan yang memberikan sumbangan dalam pertunjukan Handel. Oratorio
itu dengan cepat menjadi sangat popular dan segera dilihat sebagai sebuah karya
klasik yang abadi. Hal yang menarik adalah bahwa Handel terus bermain-main
dengan hasil karya itu dan bahkan mengubahnya. Salah satu sumber mengatakan, “Handel
berkali-kali mengadakan pagelaran
Messiah dan sering mengubah music untuk memenuhi kebutuhan para penyanyi
dan orchestra yang tersedia baginya. Karena itu, tidak ada versi tunggal yang
dapat dianggap sebagai karya yang “otentik”.
Karena
ribuan pound untuk amal berhasil dikumpulkan dari pertunjukkan “Messiah”,
seorang penulis biografi berkomentar, ‘Messiah’ benar-benar memberi makan
kepada orang-orang yang lapar, pakaian kepada yang telanjang, perlindungan bagi
yatim piatu, lebih dari produksi music tunggal yang lain.” Penulis lain
berkata, “Kemungkinan tidak ada karya dari komponis lain yang akan memberi
kontribusi begitu besar dalam melegakan penderitaan umat manusia.”
Karya
Handel juga membawa dampak rohani yang luar biasa bagi para pendengarnya.
Seorang penlis berkata,”Lagu ini cukup berhasil meyakinkan ribuan orang bahwa
Tuhan ada di sekitar kita, bahkan lebih meyakinkan daripada semua karya
teologis yang pernah ditulis.” Spiritualitas Handel dalam menciptakan karya
religius terpopuler membingungkan banyak ahli music. Meskipun komponis orchestra
dan opera sekuler ini tidak mengikuti pola pada umumnya, namun ia adalah
seorang pengikut Kristus yang setia dan
sangat terkenal karena kepeduliannya terhadap sesame. Di gereja, ia sering
berlutut dan mengekspresikan semangat pengabdiannya yang menyala-nyala lewat
penampilan dan gerakan-gerakan tubuhnya.
Temannya,
Sir John Hawkins, menuliskan bahwa Handel mewujudkan nilai-nilai agama yang
mendalam melalui hidupnya. Dia senang memasukkan ayat-ayat dalam Kitab Suci ke
dalam muskinya. Perenungannya tentang perikop-perikop yang agung dalam kitab
Mazmur yang mengagumkan, telah memberikan kontribusi untuk pertumbuhan
rohaninya. Sayangnya, Handel diketahui suka mengumpat dalam beberapa bahasa, setiap kali ia marah.
Namun, pada saat yang sama, ia mengaki kesalahannya dan meminta maaf dengan
segera. Handel memiliki perawakan yang tinggi, bertulang besar, dan bersuara
keras. Ia gemar memakai wig warna putih yang indah, dengan model keriting yang
terurai hingga ke bahunya. Gaya bicaranya pun mudah dikenali karena sering
mencampurkan bahasa Inggris dengan berbagai kata dari bahasa Jerman, Prancis. Dan
Itali. Selain itu, Handel dikenal secara mendunia karena optimis, murah hati
dan peduli pada orang-orang yang menderita. Ia bahkan memberikan amal meskipun
sedang mengalami kebangkrutan financial.
Popularitas
yang diraih Handel dengan susah payah bertahan hingga kematiannya. Menjelang
kematiannya, Messiah ditetapkan sebagai standar lagu drama. Pengaruhnya
terhadap komponis-komponis lain sangat luar biasa. Ketika mendengar lagu
Haleluya, Franz Joseph Haydn, seorang komponis Austria menangis seperti seorang
anak kecil, kemudian berkata,”Dialah guru kita semua!”
Beberapa hari sebelum meninggal, Handel mengatakan
keinginannya untuk mati pada hari Jumat Agung, dengan harapan bertemu dengan
Allahnya yang baik, Tuhan dan Juru Selamatnya yang manis, pada hari
Kebangkitan. Tapi ia hidup hingga hari Sabtu pagi, tanggal 14 April 1759.
Delapan hari sebelumnya, ia memainkan karya besarnya,”Messiah”, untuk terakhir
kalinya.
Terhadap kematiannya, James Smyth seorang sahabat
Handel menulis, “Handel meninggal saat ia menjalani hidup Kristen yang saleh,
baik kepada Allah dan kepada sesame. Amalnya bagi dunia sungguh sempurna.”
Handel disemayamkan di Westminster Abbey, dan dihadiri sekitar 3.000 orang yang
melayat. Sebuah patung yang memperlihatkan ia yang sedang memegang naskah
solonya yang terbuka di bagian ketiga lagu “Messiah”, yang berbunyi,”Aku tahu
bahwa Penebusku hidup,: didirikan di atas makamnya.
Jaman sekarang bagian pertama dan kedua dari oratorio itu yang sering
dipentaskan. Dan lagu Hallelujah sebenarnya adalah kesimpulan dari bagian
kedua, tetapi dalam pertunjukan saat ini, lagu tersebut dijadikan sebagai
klimaks dari perayaan Natal dari bagian pertama dari oratorio ini. Banyak
variasi dan penyusunan ulang yang dibuat selama abad-abad berikutnya atas karya
Handel tersebut – salah satu arrangement ulang yang terpenting adalah karya
Mozart dan diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Handel tidak pernah mengetahui
sebelumnya bahwa pekerjaannya itu akan menjadi bagian yang paling agung dalam
seni music klasik dalam sejarah. Dan ia tentu tidak tahu bahwa banyak versi
yang akan dibuat untuk oratorio Messiah.
No comments:
Post a Comment